Wednesday, March 17 2010 16:05
Dimas Abdirama
Jika saja Neng Geulis tidak masuk ke dalam masjid itu, tentu hati Neng tidak akan segundah ini. Seandainya saja Neng tidak bertemu lelaki Jerman bermata biru itu, pasti Neng bisa hidup bahagia sekarang. Ah tidak, bukan, bukan itu, hanya saja Neng tidak menaruh kasihan pada anak kecil bernama Hakan kemarin, semua derita ini tidak akan terjadi!
Baca...
|
Monday, March 08 2010 11:52
Dimas Abdirama
 [ Geming] Aku memang seorang muslimah, namun bukan itu baju yang ku kenakan. Sejak aku tinggal bersama kekasihku di kota mahaindah ini, aku telah membuka mata bahwa agama hanyalah sebuah alat pengotak-kotak, apapun bentuknya, bisa hati, bisa pemikiran, bisa pergaulan, bisa juga pertemanan. Jika saja Tuhan bisa membuka mata samudra yang luasnya membentang dari timur ke barat lalu dari utara ke selatan, mengapa tidak bisa kubuka lebar-lebar mataku? Matamu? Mata orang-orang itu?
Baca...
Monday, March 08 2010 11:33
Dimas Abdirama
 Di Berlin sedang terjadi kekacauan yang luar biasa.
Jutaan orang berkumpul di beberapa tempat. Straße des 17. Juni dipenuhi lautan manusia yang berjejal sampai tugu Siegesäule dan Brandenburger Tor. Ribuan orang menumpuk sepanjang Friedrichstrasse sampai Unter den Linden dan Alexanderplatz. Sebagian lagi memadati Potsdamer Platz.
Baca...
Tuesday, September 08 2009 02:36
Dimas Abdirama
Udara makin menghangat di musim panas yang datang terlambat, walau sesekali hujan bisa saja turun tiba-tiba dengan deras tanpa tendeng aling-aling. Orang-orang di sini sangat cinta dengan matahari, maklum, matahari memang enggan berlama-lama menyengat negara ini. Seperti juga kami, yang sebenarnya punya banyak matahari di negara kami sendiri.
Baca...
Sunday, February 08 2009 02:38
Dimas Abdirama
Namanya Cahaya. Cahaya Delaluna. Ya, sinar rembulan! Nama yang cantik, secantik paras gadis mungil itu. Cahaya sedang bergembira di hari ulang tahunnya yang kelima. Tuan Bob dan Nyonya Tutiek mengundang semua teman-teman putri tunggalnya dalam sebuah pesta meriah lengkap dengan hiburan badut sulap. Pipi tomatnya seperti mau pecah ketika ia meniupkan lilin-lilin di atas kue tart yang dihias seperti sebuah kota. Ada rumah-rumahannya, gunung-gunungannya, dan ada pohon-pohonannya.
Baca...
|
|
|
|
|
|
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL |