FLP Jerman

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Melting Pot Penulis Sastra Dakwah Bernama Forum Lingkar Pena

E-mail Print PDF

FLP Segala puji bagi Dzat Sang Maha Cahaya. Dzat yang memberikan izin-NYA untuk kelezatan iman dan rasa syukur yang meluap, membuncah dan memenuhi segenap jiwa hamba-hamba-Nya. Salam dan salawat semoga senantiasa tercurah pada penghulu para Nabi, Muhammad SAW, yang mengajarkan umatnya untuk membaca  hikmah dalam ketakmampuannya membaca. Muhammad SAW, murrobi para sahabat,tabiin, tabiit dan orang-orang yang senantiasa beriman kepada-NYA, agar selalu menemukan hikmah dalam bashirah hidupnya.



Sungguh sebuah amanah yang berat ketika  forum MUNAS 2009  memilih  saya sebagai ketua UMUM Forum Lingkar Pena, sebuah organisasi penulis yang diberi kemudahan untuk berkembang dan tersebar di Indonesia dan beberapa kota di luar negeri.  Sungguh hanya Allah "“lah yang sanggup menggerakkan hati-hati para penulis, calon penulis, pembaca, penerbit, para kritikus, untuk bergabung menjadi anggota, atau bersimpati pada visi Forum Lingkar Pena. Sebab itu, saya mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi rajiuun, segalanya berasal dari sang Maha Cinta dan akan kembali kepada Sang Maha Cinta. karena kepimimpinan bukanlah sebuah kebanggaan tetapi ia adalah amanat yang akan dituntut di akhirat dan kehinaan jika ia tak mampu untuk diemban.

Kullu Zamaanin Rijaaluha

Sejarah adalah catatan perjalanan yang pantas untuk ditengok sebagai referensi
dan rujukan bagi kita, dan dalam setiap zaman hiduplah para pejuangnya. Maka, sejarah
FLP tak bisa dipisahkan dari haru biru dakwah Islam di kampus-kampus  Indonesia pada awal tahun 1980 an hingga akhir 1990, kala itu dakwah Islam merebak di kampus-kampus seakan menjawab  kegelisahan mahasiswa karena terbitnya NKK/BKK
(Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus), yang melarang aktivitas
para mahasiswa melakukan aktivitas selain akitivitas akademis. Ketentuan ini
berupaya membukam aksi kritis mahasiswa terhadap jalannya pembangunan orde
Baru. Lalu, jika organisasi tak lagi nyaman dan lapang untuk beraktivitas?
Dimana lagi kekritisan bisa diretas? Masjid kampus akhirnya menjadi surga para
aktivis menggelorakan hasrat kritis mereka.

Maka dari kampus pula lahir para pemikir dakwah Islam yang menggeliat
untuk melakukan perubahan, melakukan pencerahan.. Salah satu geliat perubahan
dan pencerahan itu adalah melalui tulisan.

Helvy Tiana Rosa menggerakkan teman-temannya untuk mendirikan FLP, Forum Lingkar Pena pada tahun 1997, saat itu ia masih menjadi pemimpin redaksi majalah Annida, majalah remaja yang tak bisa dilepaskan sama sekali dari komunitas dakwah Islam di
kampus-kampus sekular di Indonesia. Maka saat itu FLP berkantor bersama dengan
majalah Annida. Jenial memang, melakukan kapitalisasi asset dakwah menjadi satu
sinergi, daya hantamnya pun kemudian menjadi luar biasa. Politik akomodasi orde
baru sejak berdirinya ICMI pada tahun 1990 di Malang, ikut mendorong secara
tidak langsung maraknya aktivitas Islam di kampus kampus sekuler di Indonesia,
termasuk gerakan yang dilakukan oleh majalah Annida dan pada akhirnya Forum
Lingkar Pena. Maka, kala itu isu-isu Islam di dalam negeri dan luar negeri menjadi sumber inspirasi yang tak pernah kering, dari Aceh hingga Bosnia Herzegovina.

Helvy yang memimpin FLP selama delapan tahun telah menggoreskan satu tapak yang cukup kokoh dengan definisinya tentang  sastra Islam: "Tulisan untuk mencerahkan diri sendiri dan masyarakat." (HTR, Annida 22 Juni 2008), ia pun mengutip Said Hawwa dalam bukunya "Al Islam III" bahwa seni dan sastra Islami adalah seni atau sastra yang berlandaskan kepada akhlak Islam, dan Ismail R. Al-Faruqi yang mengatakan bahwa, estetika Islam adalah estetika yang infiniti (estetika ketakterhinggaan), dimana semua bentuk kesenian diakomodir pada keyakinan akan Allah. Begitulah, identitas Forum Lingkar Pena adalah estetika Islam dan estetika dakwah. Sehingga kini, atas nama itulah ribuan pemuda muslim hadir, dalam sebuah rumah bernama Forum Lingkar Pena.

Maka ketika bicara Islam, ia adalah identitas seorang muslim. Berbicara identitas maka terdapat dua terminologi: identitas personal dan identitas sosial. Karena kita adalah individu maka kita adalah personal. karena individualitas dan personalitas kita, maka tak urung kita tak dapat menolak bahwa kita berpotensi mengalami diakronika pemikiran, ketidakajegan pemikiran, dinamisasi personal, pencarian personal, itu semua adalah sebuah kewajaran, bahkan ia adalah kekayaan.

Dan oleh sebab kita telah terlanjur bergabung dengan penuh keyakinan dalam sebuah komunitas, maka kita memiliki identitas kelompok, kelompok besarnya adalah umat Islam, dan kelompok kecilnya adalah forum para penulis bernama Forum Lingkar Pena.  Identitas
sosial seperti yang diungkapkan oleh Tajfel dan Turner (1979;1982) adalah salah
satu cara untuk menegaskan identitas personal seorang individu, menguatkan self
esteem individu, sebab setelah itu individu akan memandang dirinya, kelompoknya
sebagai kita dan memandang kelompok lain sebagai mereka. Di dalam kelompok kita
saling menegaskan nilai-nilai, saling bertukar prinsip dan perilaku dikomparasi
dengan kelompok lain. Wajar jika kemudian ada yang memandang bahwa ketika
seorang penulis yang umumnnya bersunyi-sunyi dan memiliki dunia pemikiran
subyektif memilih untuk bergabung dalam komunitas, maka ia akan dianggap mengkhianati orisinalitas pemikirannya sendiri. Tetapi apakah yang sunyi itu tinggi dan
ramai itu rendah? Apakah yang sendirian adalah pemberani dan yang berkelompok
adalah pengecut dan tak percaya diri? Apakah yang sedikit itu elite dan yang
banyak itu non elite? Marilah kita beranjak dari pijakan kompetitif menjadi
setapak lebih tinggi, semangat kolaboratif, semangat kebersamaan dan kerja tim.

Meski sebagai kelompok Forum Lingkar Pena telah dipandang sebagai organisasi penulis Islam dengan anggota terbanyak di Indonesia "“sekitar 7000 anggota-  memiliki cabang di
kota-kota terbanyak di dunia "“lebih dari 100 kota- (Pena kecil HTR, 2005),  sebagai personal setiap anggota FLP memiliki dinamika dan perkembangan pemikirannya sendiri. Sebagai seorang individu muslim setiap anggota FLP masih harus terus membaca teks dan mengalami konteks, demi keutuhan/ utuhnya  pemikiran Islam kita.

Sebagai personal anggota FLP memiliki keterampilan menulis yang dinamis, berbeda-beda, dan terus berkembang, oleh sebab itu secara teknik menulis, referensi, dan estetika perlu terus diasah dan diasuh. Maka, jika terjadi diskusi kecil tentang "Apakah
diperbolehkan menulis karya fantasi seperti Harry Potter, muncul dari anggota
FLP, pertanyaan ini tentu menunjukkan siapa kita, dan apa saja yang kita baca,
boleh jadi  "Mantiq Uttair"  atau "Musyawarah Burung" karya Faridudin Attar Abu Hamid bin Ibrahim si penyebar wangi , belum sempat kita baca. Di dalam karya itu, semua syarat karya fantasi tertulis dengan rapi dan dia adalah pemeluk Islam yang taat lagi suci. Kita pun mengenal pula Ibnu Thuffail pengarang Hayy Ibnu Yaqzhan, kisah seorang anak yang kemudian tumbuh menjadi pemuda dan  memahami semesta melalui konteks hidupnya,
menemukan Allah dalam sunyi hidupnya, sebuah lompatan estetis yang mungkin
terlewatkan dari referensi anggota FLP selama ini. Dari negeri sendiri, tentu
tak asing novel Tenggelammnya Kapal Van deh Wijck karya Buya Hamka, Atheis
karya Achdiat Kartamihardja, yang berbicara tentu tentang pergolakan dan
pencarian yang bersifat transendense dari  tokoh-tokohnya. Ada yang terlewat memang,
tetapi saya berkeyakinan, belum terlambat.

Maka pada tahun 2005 terpilihlah M. Irfan Hidayatullah. Dari namanya, terlihat semangat yang dibawa Irfan adalah spiritual knowledge, hidayatullah, adalah petunjuk dari Allah. Maka M. Irfan Hidayatullah yang memimpin FLP dari 2005 "“ 2009 melakukan tugasnya dengan baik. Dengan kapasitas keilmuannya sebagai dosen sastra Universitas Padjajaran,
karya-karyanya yang juga tidak sedikit, ia mampu melaju membina kepenulisan FLP
di Indonesia dan beberapa kota di luar negeri.

Secara organisasi ia memang harus menanggung akibat cutinya sang Ketua Harian, Azimah Rahayu untuk belajar di Australia, Alhamdulilah secara organisasi ia cukup kuat menanggung beban organisasi yang tak ringan. Demikianlah, ia telah berjuang untuk memberikan koreksi, tambahan dan pengayaan atas referensi, teknis dan estetis dalam diskusi-diskusi terbatas  Forum Lingkar Pena, tentu bersama sahabat-sahabat setianya di Badan Pengurus Pusat Forum Lingkar Pena, terutama Rahmadiyanti Rusdi (lihatlah ia begitu FLP :)).

Ketika tahun 2005, Irfan terpilih secara dramatis, dalam Musyawarah Nasional pertama FLP di  Yogyakarta, hal ini membuktikan telah ada sebuah upaya pembenahan organisasi. Sebab Forum Lingkar Pena memang harus siap untuk menjadi besar. Menjadi besar dalam arti kuantitas dan kualitas, tentu mensyaratkan perangkat organisasi yang rigid, komprehensif dan pada akhirnya harus dipatuhi oleh semua yang telah bersusah payah, bermalam-malam, bersiang-siang dan berhari-hari merapatkan dan memutuskannya.

Saat ini FLP terus tak terbendung, novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburahman el-Shirazy (pada Musyarawah Nasional II FLP ia terpilih menjadi salah satu Dewan Pertimbangan FLP untuk periode 2009-2013), meledak menjadi fenomena, menembus 2,4 juta penonton hanya dalam 2 minggu dan terus merangkak naik dalam minggu-minggu berikutnya. Orang boleh saja memperdebatkan dengan berbagai analisis tentang fenomena ini, tetapi ini adalah sebuah pencapaian dakwah Islam, apapun namanya.  Secara individu tak sedikit pengarang yang kemudian mendapatkan manfaat finansial dan  manfaat citra, serta status sosial dengan keberadaanya sebagai anggota Forum Lingkar Pena, semoga ini menjadi penanda, barakah dari-Nya.

Secara organisasi FLP belum berjalan secara optimal, keputusan-keputusan serta rekomendasi dari Munas I tahun 2005 belum seluruhnya tuntas dilaksanakan. Secara struktur organisasi, FLP terus berkembang, terlihat dari utusan/delegasi Musyawarah II tahun 2009 di Surakarta, pertambahan yang cukup signifikan lebih dari 150 persen, belum lagi peserta non delegasi yang secara keseluruhan lebih dari tiga ratus orang, hadir dari 33 wilayah di seluruh Indonesia dan luar negeri. Hadir pula perwakilan penerbit-penerbit besar di Indonesia seperti Balai Pustaka, Sygma Arkanleema; Mizan, Indiva Media Kreasi, Tiga Serangkai, Lingkar Pena Publishing House, Salamadani, Zikrul Hakim dan masih banyak lagi. Hanya saja, sekali lagi potensi yang luar biasa besar ini, belum dikelola dengan optimal.

Kaannahum Bunyanun Marsuus

Potensi FLP demikian besar, harus optimal dengan pengelolaan yang benar dan komitmen yang tinggi dari para anggotanya untuk dikelola dan dipimpin dengan baik. Pemimpin yang amanah tentunya mensyaratkan pengikut yang memiiliki komitmen dan keinginan untuk bersama-sama memajukan organisasi..

"Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan sesungguhnya.  Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh" (QS.As-Shaff: 3 -4)

Agar tak datang murka Allah SWT karena kita tidak mengerjakan apa-apa  yang telah kita katakan dalam rapat-rapat yang dihadiri peserta munas dari seluruh penjuru Indonesia dan luar negeri, maka kita mesti bersepakat, berkomitmen, untuk berbaris teratur rapi layaknya
bangunan yang tersusun kokoh.

Analog dengan apa yang dikatakan KH.Achmad Dahlan yang ditujukan pada para anggota
Muhammadiyah: "Jangan tanyakan apa yang bisa diberikan organisasi kepadamu, tetapi tanyakan apa yang bisa engkau berikan pada organisasimu"

Berkaca pada pencapaian individu anggota FLP terdapat jarak yang cukup jauh antara mereka yang telah berprestasi secara nasional dan bergaul dengan kalangan penulis
internasional dengan mereka yang baru memetakan apa sebenarnya tulisan yang
mencerahkan itu? Bagaimana menulis yang baik itu?  Oleh sebab berorganisasi adalah komitmen untuk saling berbagi, saling mendukung, saling memfasilitasi, maka menjadi sebuah keniscayaan bahwa jarak itu harus diperkecil dengan niat tulus dan ikhlas. Membagi cahaya ilmu tentu saja adalah bagian dari visi Forum Lingkar Pena sendiri, semoga dengan mengintroduksi kebiasaan itu maka kualitas dakwah pena itu akan menjadi nyata. Jumlah kader  FLP yang besar menjadi seiring dengan kuantitas
serta kualitas kader yang menulis, maka akan datang keberkahan itu dengan
sendirinya.                 



Rencana Strategis FLP 2009-2013

Sebagai forum pengambilan keputusan tertinggi organisasi (pasal 12 AD FLP), Musyarawah Nasional II FLP 2009, nampaknya tidak mengubah Visi dan Misinya yakni:

VISI FLP: Organisasi yang memberikan pencerahan melalui tulisan

MISI FLP
a. Meningkatkan mutu dan produktivitas karya anggota sebagai sumbangsih berarti bagi
masyarakat.

b. Membangun jaringan penulis yang menghasilkan karya-karya berkualitas dan mencerdaskan.

c. Meningkatkan budaya membaca dan menulis di kalangan masyarakat.

d. Memperjuangkan kehidupan yang lebih baik bagi penulis

Oleh sebab itu, Badan Pengurus Pusat yang akan dibentuk oleh Ketua Umum berdasarkan AD FLP pasal 21, akan mempertajam visi dan misi tersebut melalui struktur organisasi, rencana strategis dan program-programnya.

Tujuan FLP

1.       Menjadi organisasi penulis kelas nasional yang beridentitaskan keIslaman berakar pada sosio-budaya Indonesia

2.       Menjadi organisasi yang memiliki tata kelola baik dan mampu mandiri serta memberi kemanfaatan optimal bagi organisasi dan anggotanya.

Sasaran FLP

1. Untuk tujuan menjadi organisasi penulis kelas nasional yang beridentitaskan keIslaman
berakar pada sosio-budaya Indonesia ditetapkan sasaran:

1. 1 Terwujudnya rumusan sastra dakwah Islam berbasis sosio-budaya Indonesia

2. 2. Tercapainya jejaring kerjasama nasional dengan komunitas penulis, penerbit, kritikus dan pegiat literasi

3.1 Tercapainya peran FLP yang selalu meningkat dalam penyelesaian masalah literasi, pencerdasan dan pencerahan umat berbasis sosio-budaya bangsa Indonesia

4.1 Tercapainya peran FLP dalam kegiatan riset budaya dan sastra, riset keislaman dan dakwah berbasis sosio budaya Indonesia

5.1 Tercapainya penjenjangan tingkat madya bagi anggota dua puluh lima persen anggota FLP


2. Untuk tujuan menjadi organisasi yang memiliki tata kelola baik dan mampu mandiri serta member kemanfaatan optimal bagi organisasi dan anggotanya ditetapkan sasaran:

2.1 Tuntas akta notaries forum atau organisasi profesi, tuntas hak paten logo FLP

2.2 Tuntas penyiapan sistem manajemen

2.3 Tersusunnya laporan keuangan sesuai standar akuntansi yang berlaku bagi organisasi yang mandiri

2.4.Tercapainya beberapa percontohan bisnis yang dikelola oleh BPP FLP

2.5 Tercapainya peningkatan berkelanjutan kapasitas kerjasama dan pengembangan usaha dengan pihak-pihak eksternal


PENUTUP

Tiada daya dan kekuatan melainkan dari Sang Maha Pemilik Kekuatan. Tiada cahaya dan ikatan persaudaraan kecuali diperkenankan oleh Sang Maha Cahaya dan Pemilik Hati. Maka berikanlah kekuatan, cahaya dan ikatan persaudaraan diantara kami, untuk
menyebarkan cahaya, kekuatan dan persaudaraan atas nama-Mu, ya Allah.



00.01wib, Jakarta, 6 September 2009

Izzatul Jannah

Ketua Umum FLP 2009-2013

 


blog comments powered by Disqus
 

Menjadi Anggota

Ingin menjadi anggota?
Klik di sini.

Online

Saat ini 2 tamu online

RSS