Romadhon tahun lalu, suatu keberuntungan bagi Saya ketika bisa menghadiri sholat tarawih di Masjid Ar Rahman di Kota Berlin. Selain ada dua orang Imam dari kalangan muda yang saling bergantian mengimami sholat tarawih dan witir dengan bacaan Al-Qur’an yang tartil dan merdu, di Masjid itu pula sedang mendapat kunjungan program safari dakwah oleh seorang Dai muda yang berasal dari Saudi Arabiya. Beliau di tengah-tengah tausiyahnya kala itu sempat menyitir sebuah hadist Nabi SholloLlohu ‘Alaihi Wa Sallam tentang etika seorang yang hendak berpergian agar meninggalkan pesan doa kepada yang di tinggalkannya dengan kalimat; “Astauwdi ’ukumulLohu alladzi la tadhi’u wadaa’iuhu“ yang artinya: “Aku titipkan/serahkan dirimu kepada Alloh yang tidak akan hilang titipannya/serahannya“ ¹.
Di sepanjang perjalanan pulang dari masjid menuju rumah, dan di dalam kereta yang saya tumpangi, betapa doa tersebut begitu membekas mengiyang di benak. Saya merenung…., Kata bathinku; “kalimat dari hadist itu syarat makna”. terbayang, seumpama sebuah keluarga dan salahsatu anggota diantara mereka apakah suami atau istri atau anak-anaknya pergi ke luar rumah untuk keperluan hajatnya, apa jaminan dan siapa yang akan menjamin dan menjaga keselamatan jiwa raganya hingga bisa kembali ke rumah dengan selamat sebagaimana kondisi semula ?. Demikian juga yang berada di dalam rumah yang di tinggalkannya. Siapa yang menjamin ?
Atau ketika salahsatu pasangan dari pasutri mendapat tugas dari kantornya ke luar kota atau luar negeri, siapa yang menjamin bahwa salahsatu pasangannya tersebut akan selalu komitmen dalam memegang Tali Alloh dan tidak berbuat menyimpang dan ‘aneh-aneh‘ ?. Cukup sudah cerita ngalor-ngidul dari para supir taksi atas pengalaman mereka dalam mengantar tamunya. Juga cukup sudah persaksian dari pengalaman yang di tuturkan oleh beberapa kenalan yang bertugas di perwakilan pemerintah di luar negeri ketika mengantar sebagian tamu terhormatnya.
Pun sebaliknya ketika salahsatu pasangan pasutri tersebut ditinggal pergi beraktifitas oleh salahsatu pasangannya. Duhai, siapa yang menjamin mereka untuk tidak berkhianat tatkala pasangannya tidak berada di sisinya?. Cukup sudah berita-berita di media massa sebagai bukti persaksianya.
Ataukah harta benda yang dimiliki, dikumpulkan dan ditumpuk-tumpuk yang ditakuti dan dikawatirkan akan habis dari keabadiannya, apakah saat didepositokan, diinvestasikan atau disimpan di kotak-kotak besi bahwa selamanya akan aman-aman saja, tidak akan terjadi hal-hal diluar apa yang direncanakannya, entah di curi, di rampok, kebakaran, kebanjiran, ditilep orang atau di bawa lari oleh pemilik Bank ?
Atau tengoklah sebentar anak-anak Kita, bagaimana ‘nasib‘ mereka kelak dengan kondisi lingkungan sekitarnya yang ada, apakah menjadi pemuda yang lurus penuh asa dan berdaya agamanya hinga ajalnya menjemput atau menjadi generasi MTV yang ‘gaul abis‘ atau akan menjadi generasi hedonis ?. Terlebih bagi anak yang mulai hidup terpisah dengan keluarga entah karena kuliah di luar kota atau luar negeri, tahu apa keluarganya atas aktifitas yang mereka lakukan di luar sana? Bukankan pengetahuan manusia terbatas?
Maka alangkah eloknya, alangkah ‘logis’nya bila menjaminkan dan menitipkan bagian dari diri kita yang sedang berpisah tersebut, entah pihak suami, istri, anak-anak atau bahkan masa depan kita sendiri dan anak-anak kepada Alloh Ta’ala semata. Ketika kita tinggal dan berangkat pergi, atau saat kala anak-anak pamit ke sekolah atau bermain ke luar rumah alangkah amannya bila kita titipkan kepada Dzat yang takdir baik dan buruk berada di TanganNya. Hal ini merupakan bentuk peribadahan kepada Alloh. Sebab Alloh tempat bergantung, berharap, bertawakal dan berserahan diri?. Dengan menyerahkan, menitipkan semua bagian dari diri kita kepada Alloh niscaya Alloh akan menjaganya. Dan jika Alloh yang menjaga titipan maka pejagaan-Nya adalah sebaik-baik penjagaan .
Aku titipkan diriku serta keluargaku, kepada-Mu, yaa Rob….
Allohu a’lam.
Yanuar Muharrom
Potsdam, Germany. Diawal musim dingin tiba.
¹) [HR Ibn Sunni dan Ahmad]





