FLP Jerman

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Ramadhan Idol

E-mail Print PDF

Pemirsa tivi kebanyakan akrab dengan istilah “idol“. Ada pentas Indonesian Idol di tingkat nasional, ada Asian Idol di tingkat benua, sementara negara-negara lain juga tidak kalah: American Idol, Singapore Idol, Deutschland Sucht den Superstar, dan lain sebagainya. Pentas “adu hebat“, “adu gaya“ atau sekedar “adu tampang dan suara“ itu kini bukan hanya menjadi komoditas dunia hiburan, tapi juga sebuah “merek“ bagi jaminan hidup bergaya bagi komunitas tertentu. Intinya, kita dapat di buat malu di tengah publik, kurang gaul atau kurang gaya, kalau belum mengenal “idol-idol“ yang akan dilahirkan di pentas-pentas tersebut.

Idol yang maknanya ”something that you put before your priorities”, menjadi ironi karena sering kehilangan makna dalam mencari: kepada siapa kebanggan, kehebatan, kecerdasan atau ketampanan itu ditujukan. Itu semua karena idol pilihan manusia sering dipaksa oleh sistem yang ada untuk selalu bercermin dengan kelebihan diri, dan kurang terampil mendefinisikan kelemahan pribadi.

Saudaraku, fitrah manusia pada umumnya senang dilihat, senang dipuji dan ingin selalu menampilkan yang terbaik. Wajar bila kita pergi ke pusat perbelanjaan, maka kita akan disuguhi penampilan trend busana, sepatu dan segala jenis parfum dan perhiasan terkini dan aktuel. Begitupun dengan apa yang ada di televisi, di stadion olahraga, dalam dunia bisnis, kita akan merasakan manusia sedang berlomba memperlihatkan produk terbaiknya sekaligus menarik kebanggaan pribadi hasil daya ciptanya semua.

Sesungguhnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Pencipta maha mengetahui fitrah manusia seperti itu. Pada saat menciptakan manusia yang memiliki kecenderungan untuk dilihat, dikagumi, dipuji dan menjadi bahan cerita oleh orang lain, Allah pun memberikan alternatif pemecahan yang menjadi tumpahan perasaan itu.Ada tiga kaidah dalam ajaran Islam untuk hal ini:

Yang pertama, bahwa pada dasarnya Allah Maha Melihat tingkah laku dan gerak-gerik kita. Ucapan yang meluncur dari lisan kita senantiasa dicatat ole para malaikat-Nya, seperti yang difirmankan dalam al qur’an:

Tidak ada satu perkataan yang dilafazkannya (atau perbuatan yang dilakukan) melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang sentiasa sedia (menerima dan menulisnya) {Qaaf: 18}

Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. {Al Infithar: 10-12}

Yang kedua, bahwa Allah menugaskan para malaikat pada siang dan malam hari untuk melaporkan hamba-hamba Allah (meskipun Allah mengetahui semuanya). Kemudian para malaikat melaporkan hasil pantauannya pada dua waktu kerja (shift) malaikat, yaitu Subuh dan Ashar, sebagaimana dijelaskan dalam hadits:

Bertugas secara bergantian di tengah-tengah kalian malaikat-malaikat malam dan malaikat-malaikat siang, mereka berkumpul pada waktu sholat shubuh dan watu sholat ashar, kemudian yang bertugas malam kembali pada Allah, lalu Allah bertanya kepada mereka – pdahal Dia lebih mengetahui – ”Bagaimana kalian tinggalkan hamba-hambaku?” Maka para malaikat menjawab: ”Kami tinggalkan mereka dalam keadaan sholat dan saat datang kepada mereka (kemarin) , mereka dalam keadaan sholat. {Muttafaqun ’alaih}

Yang ketiga, bahwa Allah menugaskan setiap hari jum’at para malaikat untuk mendata hamba-hamba Allah yang datang ke masjid untuk sholat jumat. Seperti diriwayatkan dalam hadits shahih riwat Bukhori dan Muslim bahwa para malaikat berjaga di setiap pintu masjid dan kemudian mencatat orang yang datang pada shaf pertama dengan imbalan seperti berkurban unta, orang yang datang pada shaf kedua dengan imbalan seperti berkurban sapi, dan yang datang pada shaf ketiga dengan imbalan seperti berkurban kambing.

Oleh karena itu, marilah kita tunjukkan amal terbaik kita, sehingga ketika malaikat melaporkan apa yang kita perbuat kepada Allah, lalu Allah menjadi ridho kepada kita. Kita diperintahkan untuk memperlihatkan kepada Allah segala hal yang baik yang akan dibangga-bangkan di hadapan Allah SWT. Kita menjadi ”idol” bagi-Nya di bulan ini.

Target ketakwaan yang hendak ditanamkan dalam Ramadhan akan terasa sangat berkesan dalam kehidupan kita bila kita merasakan kehadiran para malaikat petugas-petugas Allah SWT dan merasakan pengawasan dari Nya. Takwa inilah yang menyelamatkan kehidupan dunia dan akhirat.

Sahabat ’Ubay bin Kaab mengatakan bahwa bertakwa adalah sebuah kondisi yang menjadikan kita sangat berhati-hati dalam menginjakkan kaki kita, agar tidak menginjak duri. Idol pilihan manusia, betapun cerdas nan tampan-jelita, punya potensi ”kepeleset” dalam kehidupan bila jauh dari apa yang diinginkan Rab-Nya dalam hidup ini.

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh kebaikan dan bulan berkompetisi dalam amal sholih. Banyak peluang di hadapan kita, tinggal bagaimana kita mendayagunakan peluang-peluang itu sebaik-baiknya. Menjadi idol bagi Allah di bulan ini sangat mudah dilaksanakan dan hidup akan menjadi tenang.

 

Berlin, September 2008


blog comments powered by Disqus
 

Menjadi Anggota

Ingin menjadi anggota?
Klik di sini.

Online

We have 2 guests online

RSS