FLP Jerman

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Pendidikan Seharga Nyawa

E-mail Print PDF

23 Februari 2004. Tubuh dari empat mahasiswa tingkat akhir ditemukan membusuk di dalam sebuah lemari asrama Universitas Yunnan, Cina. Tang Xueli, Shao Ruijie, Yang Kaihong dan Gong Bo, keempatnya tewas mengenaskan berbekas memar keras di kepala. Siapakah pembunuh sadis itu? Ma Jiajue, mitra sekampus keempatnya.

Kasus pembunuhan ini mengejutkan Cina. Seminggu penuh media menyoroti peristiwa ini. Bahkan stasiun televisi terbesar China, CCTV (Channel 4) secara serius menjejak kasus Ma Jiajue, sedahsyat pemberitaan perang di Irak tahun 2003.

Polisi berhasil menangkap Ma sebulan setelah keempat mayat itu ditemukan. Di hadapan media, tidak ada raut takut dan bersalah yang dipertunjukkan Ma. Ironisnya, pemuda 24 tahun itu malah menolak hak pembelaan dan pendampingan hukum yang ditawarkan empat pengacara (secara cuma-cuma). Ma Jiajue memilih mengakhiri hidupnya. Sampai pada 17 Juni 2004 dia dieksekusi mati oleh pengadilan tinggi propinsi Yunnan.

Siapakah sebenarnya Ma Jiajue? Mengapa dia membunuh keempat sahabatnya sendiri? Ma Jiajue jelas seorang pembunuh, namun apa yang memaksanya untuk membunuh?

Ma Jiajue berasal dari keluarga miskin di propinsi Guangxi. Semenjak berusia lima tahun, dia sudah terbiasa (dan dibiasakan) bekerja membantu kedua orang tuanya sebagai buruh tani di lahan perkebunan milik orang lain. Bermuasal pada pendapatan yang terbilang kecil, keluarganya menambah pekerjaan sampingan sebagai penyetrika dan pencuci baju beberapa keluarga menengah yang tinggal beberapa kilometer dari desanya. Namun apa dikata, dengan pekerjaan 'seadanya' itu, nominal 100 yuan baru mereka dapatkan setelah 200 potong pakaian tercuci bersih.

Demi menyekolahkan Ma di sekolah dasar, usaha akhir yang bisa dilakukan kedua orang tuanya hanyalah meminjam 5000 yuan dari pihak sekolah. Tidak ada keringanan. Ibarat ketakutan pada tagihan rentenir, mereka berjanji, setiap terkumpul beberapa ratus yuan akan langsung mereka setor.

Tidak sampai hati melihat kondisi mengenaskan di rumahnya, semenjak sekolah menengah pertama Ma tidak lagi meminta uang sekolahnya. Selain itu, ia memilih berada di sebuah asrama dan berhasil meyakinkan kedua orangtuannya akan kemampuan untuk berdikari--berdiri di atas kaki sendiri. Lantas, dari mana uang sekolah dan uang jajan ia dapatkan?

Di asrama, Ma menawarkan diri kepada kawan-kawannya untuk mencuci dan menyetrika setiap potong pakaian yang telah mereka pakai. Setiap helai pakaian dihargai satu sampai dua yuan. Servis murah ini ia tawarkan, karena memang tidak ada pilihan lain yang bisa dipilih. Ditambah keinginan kuatnya untuk mengangkat level kesejahteraan kedua orang tuanya, sebagai anak tertua di keluarganya.

Gangguan Jiwa dan Guncangan Sosial

Sebenarnya Ma terkategori siswa yang cerdas. Terbukti atas prestasinya di junior high school sebagai pemenang kedua kompetisi fisika tingkat nasional. Keterbatasan finansial dan pukulan berat yang dihadapinya sedari dini, memaksa Ma menutup diri dari komunitas sekelilingnya. Satu sekolahan mengenal (dan menjustifikasi) Ma sebagai remaja yang pendiam dan cenderung aneh.

Tidak ada yang peduli, bahwa demi melunasi uang sekolahnya, Ma pernah terpaksa menjual satu-satunya sepatu sekolah yang ia miliki, dan merelakan bersekolah tanpa alas kaki. Juga tidak ada yang pernah tergubris, bahwa demi mempertahankan satu bangku di sekolahnya, tidak jarang Ma meminjam (hingga meminta) satu sampai dua yuan dari sekian banyak kawan di kelasnya. Ma sudah kehilangan nilai dan tidak lagi peduli berapa harga jual yang ia miliki, yang memang telah ia rasa hilang semenjak dulu.

Satu hal yang hampir tidak dapat dipercaya. Dengan kondisi sedemikian mencekik, Ma masih bisa masuk ke Universitas. Kesempatan itu ia peroleh, setelah ayahnya merelakan tabungan akhir milik keluarganya.

Ditemui di balik terali besi, Ma terlihat bangga mengenakan pakaian teristimewa yang pernah dikenakannya: pakaian tahanan. Ma mengakui, pembunuhan yang dilakukannya adalah murni keinginan dan skenarionya. Tidak ada sangkalan.

Banyak analisa bermunculan. Beberapa pengamat menuding motiv pembunuhan ini "sebatas" pembunuhan biasa, dikarenakan Ma pernah kalah dalam satu permainan kartu. Sebagian kecil memvonis Ma mengidap gangguan mental. Sementara banyak pengamat justru mendedikasikan aksi ini sebagai buah hasil ketertimpangan 'si kaya dan si miskin', sakit jiwa sosial dan nisbinya pendidikan yang berkeadilan.

Bukan Thriller Fiktif

Tidak perlu belajar jauh sampai ke negeri Cina. Adaptasi tema 'pendidikan menagih nyawa' sudah lumrah di sekitar kita. Indonesia memiliki segudang cerita serupa, juga tidak kalah mengenaskan.

Ingatan kita pun melanglang mengenang Miftahul Jannah. Bocah 13 tahun yang memilih menyudahi hidupnya dengan menggantungkan setagen sepanjang 395 cm di lehernya, lantaran ia tidak ada uang untuk mengambil ijazah akhir sekolahnya.

Mita (Miftahul Jannah) tinggal bersama embahnya di Surabaya, sementara kedua orangtuanya adalah penjual sayur di Bali. Belakangan Mita sering mengirimkan surat kepada keduanya, akan simpanan bulanannya yang sudah habis. Syahdan, tidak terbalas. Melihat keadaan yang menghimpit, sang embah tidak juga mengulurkan bantuan. Bahkan ia marah; Mita makan dan tidur juga tidak membayar! Tidak lama kemudian, Mita sudah ditemukan tergantung dan kehabisan oksigen.

Sebaliknya, seorang ibu Muda di Palembang bernama Mira (37 tahun) memilih menenggak racun di kamar rumahnya. Setelah sekian bulan putra sulungnya menagih SPP yang ditunggaknya. Si sulung mengaku malu terus-menerus ditagih pihak sekolah untuk melunasi bayarannya. Akan kejenuhan realitas yang menghimpitnya, apa dinyana, Mira terlanjur memilih jalan pintas mengakhiri kesemuanya itu.

Kematian adalah berhentinya fungsi jantung. Artinya, yang kita pahami hanyalah matinya fungsi jantung. Namun sebenarnya, kematian sederet sukma itu juga mengisyaratkan; kematian moral, kematian keadilan, kematian akal, hingga kematian ruhani.

Kita tahu, keinginan (sampai tuntutan) peningkatan standard kelulusan dan kualitas pendidikan terus melambung tinggi, sementara alokasi dana kependidikan tidak kunjung besar dan belum terkoordinasi dengan baik. Implikasinya, privatisasi dan komersialisasi pendidikan yang semakin kebablasan.

Patut juga kita tahu ada ancaman dan harga mahal yang harus dibayar atas semua itu. Bunuh diri, pembunuhan dan sederet draft kematian yang semakin panjang. Siapa yang salah? Ketidak-pedulian dan irigasi kesejahteraan yang mampat. ***


blog comments powered by Disqus
 

Menjadi Anggota

Ingin menjadi anggota?
Klik di sini.

Online

We have 2 guests online

RSS