FLP Jerman

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Jadi Pekerja atau Wiraswasta?

E-mail Print PDF

Suatu ketika didalam diskusi saat pengajian seorang bapak mempertanyakan kehalalan gajinya dari perusahaan yang mendapat sokongan modal dari bank dengan sistem riba. Di satu sisi tentunya ia merasa gaji itu adalah haknya dari bekerja di perusahaan tersebut dan di sisi lain ia mempertanyakan apakah gaji yang ia peroleh itu tercampur kotoran riba.

Dilematis memang pertanyaan seperti ini. Saya hanya bisa diam mendengarkan dan menunggu pendapat dari peserta pengajian lainnya. Seorang bapak mencoba memberikan pendapatnya. Menurutnya, sebaiknya kita sebelum bekerja meneliti dahulu bagaimana perusahaan itu memperoleh dananya, cara mengelolanya. Carilah perusahaan yang sedikit mendekati ideal, dalam artian sedikit mudharatnya. Lalu bermunculan lagi pendapat dari seorang pemuda berlatar pendidikan ekonomi. Ia berpikiran bahwa gaji yang diperoleh oleh bapak tersebut halal karena memang itu adalah hak yang semestinya diterima dari jerih payahnya selama satu bulan bekerja. Adapun hal perusahaan bekerjasama dengan bank sistem riba itu urusan manajemen perusahaan. Lagipula dalam sistem global yang sudah mengakar ini agak sulit bagi perusahaan untuk bersaing dengan lainnya jika tidak memakainya juga. Diskusi itu pun berlangsung cukup panjang. Masing-masing, baik penanya maupun yang memberi argumen saling mempertahankan pendapatnya. Akhirnya ada satu pendapat yang sepertinya jalan tengah. Seorang bapak berkata, " Suatu waktu, kita semestinya bisa mandiri. Bukan melulu menjadi pekerja sehingga tidak bergantung pada lain. Para sahabat Rasululloh pun adalah pedagang..."

Dalam suatu perjalanan sepulang bekerja dahulu saya berbincang dengan seorang pekerja tetap di perusahaan percetakan di Nürnberg asal Indonesia. Saya mengutarakan pikiran saya bahwa lebih enak jadi wiraswasta. Mandiri dan tidak bergantung dengan lainnya. Bapak itu berpendapat lain. Menurutnya lebih enak jadi pegawai. Memang gaji yang diperoleh tiap bulan tidaklah banyak tetapi cukup dan tidak tambah beban lain seperti pengusaha. Dan lebih aman. Kalau pengusaha jika usahanya maju ia peroleh penghasilan yang melimpah. Tapi jika perusahaannya bangkrut, duhai sengsaranya. Bisa terlilit hutang dan hartanya ludes.

Dari beberapa diskusi tersebut saya menarik beberapa point sebagai berikut :

Menjadi Wiraswasta ( Pengusaha )

Positifnya :

a. Membuka lahan kerja.

b. Tidak bergantung pada orang lain. Bisa memanajemen waktu sendiri.

c. Tidak was - was akan hal pemecatan.

d. Perusahaan bisa sebagai ladang amal kebaikan.

e. Dinamis dan penuh tantangan.

Negatifnya :

a. Salah manajemen, bisa bangkrut.

Menjadi Pekerja

Positifnya :

a. Tak pusing pikirkan mengelola perusahaan.

b. Gaji dapat tetap tiap bulan.

Negatifnya :

a. Tergantung pada perusahaan (orang).

b. Selalu dihantui kewas-wasan akan hal pemecatan.

c. Sedikit tantangan, tidak dinamis.

Jadi menurut hemat saya, pertanyaan menjadi pekerja atau wiraswasta jawabannya ada pada diri kita sendiri. Jika kapasitas diri memang sanggup untuk menjadi wiraswastawan/-i dan suka tantangan, maka jadilah wiraswastawan/-i. Sebaliknya jika mengukur diri memang tidak kapabel untuk menjadi wiraswastawan/-i dan lebih suka bermain safe maka pilihan menjadi pekerja tidaklah buruk. Toh dunia akan kehilangan keseimbangan jika semuanya jadi wiraswasta. Siapa nantinya yang menjadi pekerja ?


blog comments powered by Disqus
 

Menjadi Anggota

Ingin menjadi anggota?
Klik di sini.

Online

We have 2 guests online

RSS