Suatu sore di sebuah rumah, tinggal empat mahasiswa yang baru saja diterima di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Sebut saja Adi, Adu, Ade dan Ado. Ini akhir pekan pertama mereka di rumah kos tersebut. Hujan dari kemarin malam masih juga tidak bosan mengguyur.
„Awas, hati-hati gentengnya bocor!“ teriak Adi setelah melihat tetesan air dari atap rumah tepat di depan pintu kamar Ado. Lalu ia berlalu merasa sudah memperingati kawan-kawannya. Ado yang duduk tidak jauh dari lokasi kebocoran, seperti bocah autis, keasyikan jalan-jalan mengunjungi profil Facebook teman-temannya, sambil sesekali memanen ladang jagungnya di Farmville, katanya ini game mahasiswa pertanian. Jangan kan peduli bocor, dari pagi Ado belum mandi belum sarapan, bangun tidur lantas Facebookan.
„Mangkanye, gue udah bilang, nih rumah jelek, jangan diambil. Tapi cuman gue taunya yang nggak setuju.“ keluh Adu, Si Kutu buku yang lebih gila lagi dari Si Ado, karena dari kemarin kerjaannya cuma baca buku sambil ngopi sampai lupa ngantuk.
„Elo Du, kan elo anak arsitek, harusnya elo tau dari pertama, kalo tuh genteng udah nggak beres, jadinya dari pertama kita bisa minta gentengnya diganti.“ jawab Adi dari kamar mandi.
„Kan gua udah bilang tadi, rumah ini jelek. Elo juga anak sipil harusnya juga ngerti dong.“ tambah Adu.
Di saat yang sama, Ade menaruh ember di lokasi kebocoran dan mengeringkan lantai yang basah, kemudian pergi ke rumah Sang Ibu kos untuk meminjam tangga.
***
Mungkin situasi yang mirip seperti cerita di atas pernah kita dengar. Ada yang sudah merasa melakukan perannya lalu pergi, ada lagi yang cuek tidak peduli apapun, atau hanya mau komentar, kritik tanpa melakukan solusi berupa tindak nyata. Tapi tentunya masih ada juga yang sedikit bicara tapi banyak bekerja, seperti Ade.
Saya yakin kita semua sepakat, tindakan yang paling terpuji adalah sikap Ade. Tapi coba kita bercermin, kira-kira diri kita sendiri ini lebih cocok ke Ade, Adi, Ado atau Adu?
Bailout
Belakangan ini sedang ramai dibicarakan di berbagai media tentang kasus Bank Century. Diduga ada penggelapan uang negara (korupsi) dalam proses bailout bank tersebut. Semoga kita termasuk orang yang tahu tentang berita ini, sehingga kita bukanlah Si Ado yang cuma mau Fesbukan tanpa mau tahu urusan bangsa sendiri.
Tema korupsi dari hari ke hari masih dan akan terus jadi tema hangat. Dan kalau bicara korupsi, maka kita sedang membicarakan juga tentang urusan mengambil hak orang lain. Bermula dari egoisme pribadi, lalu tidak perduli dengan yang lain, ujung-ujungnya mengambil hak orang lain. Kalau di tingkat negara, maka yang diambil adalah hak rakyat. Namun, coba kita mulai dulu dari yang kecil-kecil di sekitar kita, dari diri kita.
Entah, ini budaya atau karakter bangsa kita, yang jelas saya bukan ahli sosiologi 
Tapi saya melihat, ternyata pelaku korupsi itu bukan cuma aparatur negara, melainkan banyak juga di sekitar kita, termasuk (mungkin) kita sendiri fans berat korupsi, karena kerap kali melakukannya dengan atau tanpa disadari.
Beberapa hari lalu, salah seorang sahabat melalui catatannya menulis di Facebook yang ia beri judul „Kapan kita bisa berubah?“. Ya. Kita, bangsa Indonesia. Di sana, ia menampilkan gambar-gambar bukti ketidakdisiplinan kita akan aturan lalu lintas.
Saya menyebutnya bahkan sebagai bukti „korupsi“ kita di jalanan, karena telah mengambil hak yang bukan miliknya. Mengambil jalan yang bukan jalan untuknya.
Nyampah
Di musim hujan seperti sekarang ini, untuk daerah tertentu, bisa jadi banjir merupakan hal yang biasa. Dan biasanya juga, seriring datangnya banjir, datang juga komentar-komentar, kritik, makian terhadap pihak pemerintah daerah yang tidak mampu mencegah banjir. Itu sangat wajar. Namun kemudian menjadi tidak wajar, ketika kritik itu dinegasikan dengan perbuatan kita sendiri yang cuek membuang sampah seenaknya. Contoh lain korupsi kita sehari-hari. Lho???
Ya, karena kerja cuek nan kolektif tersebut lah, banjir datang. Cuek buang sampah seenaknya, kolektif karena semua melakukannya. Akibatnya, banjir datang dengan undangan kita sendiri, lalu orang yang tertib membuang sampah pada tempatnya juga ikut kebanjiran. Kita sedang asyik mengambil hak orang lain. Kita berhak kebanjiran, karena ia datang atas undangan kita. Tapi mereka yang tertib rasanya berhak juga untuk tidak kebanjiran. Dan kita sebetulnya tidak berhak untuk untuk membuang sampah seenaknya! Barangkali itu sebabnya di banyak negara maju, buang sampah sembarangan harus membayar denda, membayar hak orang lain yang telah kita ambil.
Saya jadi ingat tetang definisi kebebasan oleh salah seorang pemuda Jerman. Ia mengatakan, „Kebebasan adalah, saya duduk di kursi saya, anda duduk di kursi anda. Bukan saya duduk menggeser tempat duduk anda.“ Kita bebas „nyampah“ di rumah kita, tidak akan ada yang protes apalagi denda. Seperti saya ini, nyampah lewat tulisan, tapi karena saya buang di tempat saya sendiri, maka tidak akan ada yang protes.
Semoga kita bukan Si Adu, yang hanya bisa komentar, mengumpat koruptor, mengkritik, tanpa solusi nyata, bahkan lebih parah dari Si Adu, karena ternyata juga ikut melakukan „korupsi“, mengambil hak orang.
Semut di seberang pulau tampak, tapi gajah di pelupuk mata tak tampak. Geram kalau lihat koruptor, tapi ternyata kita sendiri adalah koruptor juga 





