FLP Jerman

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Surat Sang Pencinta

E-mail Print PDF

Gubuk itu sepertinya telah kosong. Dari kejauhan hanya terlihat rerumputan liar yang nyaris menutupi sebagian gubuk tersebut. Ibu bukan tipe pemalas yang akan membiarkan kondisi kumuh seperti ini. Mungkinkah ibu telah pindah? Tapi, dimana lagi?

Bukankah ibu selalu mengatakan dalam setiap suratnya bahwa ia masih tinggal di gubuk tersebut? Bahkan dalam surat terakhir yang ia kirimkan dua minggu yang lalu pun dia masih mengatakan kalau ia sedang berbahagia menanti saya. Akhirnya dengan segudang tanda tanya, aku mendekati gubuk tersebut. Perlahan kubuka pintu reyotnya. Ucapan salam pun tidak ada yang menjawab. Dengan susah payah akhirnya aku bisa masuk ke dalam gubuk tersebut. Kosong! Alas panggung pun sudah tidak ada lagi. Hanyalah gundukan tanah yang berbalut rumput liar. Terlihat ada satu papan menacap ditengah-tengah gundukan tanah tersebut. Dengan perasaan was-was, kuamati papan tersebut. Ada sebuah tulisan di sana,

 

Innalillaahi wainna ilaihi roojiuun

Aminah binti Rohmat

Lahir: 2 desember 1955

Wafat: 30 September 2007

 

Ibu! Jantungku berdegup keras. Kubaca lagi berulang-ulang karena masih merasa tidak yakin. Papan yang berbentuk batu nisan persis berumur satu tahun, padahal baru dua minggu yang lalu ibu masih mengirimkan suratnya padaku. Ibu masih ada! Dengan cucuran keringat dingin dan tetesan deras air mata, aku pun berlari-lari di sekitar gubuk tersebut mencari ibu. Surat penerimaan doktoran kupegang erat. Ini kejutan untukmu ibu!

Entah berapa lama aku berkeliling di sekitar gubuk tersebut. Sampai pada akhirnya aku kembali lagi dan terhempas lemas di samping papan bertulis nama ibu tersebut. Berbagai bayangan masa lalu pun datang silih berganti.

Sebenarnya saat itu aku tidak mau meninggalkan ibu sendirian di rumah. Apalagi dengan jarak yang sangat jauh, menempuh sekitar lima belas jam perjalanan udara. Namun, semangat dan dukungan ibu yang begitu menggebu membuatku sulit untuk menolak tawaran beasiswa itu. Yah…semuanya adalah kesalahanku yang saat itu berkeinginan keras untuk membuktikan bahwa seorang anak pembantu serabutan bisa mencapai cita-cita setinggi-tingginya. Saat itu tidak ada maksud sama sekali untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, apalagi sampai studi di luar negeri. Namun hanya ingin membuat bangga ibu bahwa aku pun mampu bersaing untuk mendapatkan beasiswa itu. Kami memang miskin, tapi bukan berarti malas dan bodoh.

„Lis, bagaimana hasil istikharahmu?“ tanya Ibu saat itu. Aku pun hanya diam saja walaupun sebenarnya ada dorongan yang sangat kuat dari hatiku untuk menerima beasiswa itu. Sungguh aku tidak berani menyampaikan hal ini.

“Kalau menurut ibu sih, sebaiknya Lilis ambil saja beasiswa itu. Kesempatan yang sangat besar untuk merubah masa depanmu. Jangan seperti ibu, yang dulu putus sekolah hanya karena masalah biaya. Sekarang peluang sekolah gratis sudah di depan mata, jangan kamu tolak. Apalagi ini belajar di Jerman, negerinya orang-orang pintar Lis.”

„Bu, dari awal seleksi Lilis sama sekali tidak berniat untuk menerima beasiswa tersebut seandainya diterima. Lilis hanya iseng saja membuang rasa penasaran.“ Aku berkata pelan. Sungguh aku tidak tega meninggalkan ibu sendirian apalagi dengan kondisi yang serba kekurangan.

„Kenapa? Jangan khawatirkan masalah ibu. Kamu ingat kan waktu kamu ragu melanjutkan sekolah ke jenjang S1. Saat itu juga kamu beralasan yang sama walaupun beasiswa sudah di ambang mata. Kekhawatiran kamu pada ibu tidak terbukti. Tuh buktinya kamu bisa selesai S1 dan ibu baik-baik saja.“ Sepertinya ibu sudah bisa menebak kegelisahanku.

„Lis, ibu sudah lama berjuang sendirian sejak kamu masih kecil. Jadi kekhawatiran kamu itu sangat tidak layak untuk dijadikan alasan menolak beasiswa tersebut. Buat apa kamu berjuang keras berkompetisi kalau pada akhirnya kamu tidak memanfaatkanya.“

“Berangkatlah, doa ibu akan selalu menyertaimu!” Tatapan tajam ibu menusuk ulu hatiku.

„Terima kasih bu, namun saat ini kondisinya sangat berbeda. Jadi kesempatan ini sepertinya masih tidak mungkin Lilis ambil“

„Apalagi?“

„Begini bu, ternyata beasiswa tersebut akan diberikan setelah tiba di Jerman. Jadi untuk biaya awal termasuk tiket pesawat harus dipersiapkan sendiri dulu“

“Oh begitu ya” Ibu kelihatan sedikit kaget.

Cahaya harapan pun kian redup. Aneh juga, kenapa harus diberikan di Jerman? Apa semua orang yang mendapat beasiswa itu dianggap mampu untuk mempersiapkan biaya keberangkatan? Masih adakah kesempatan yang benar-benar terbuka untuk orang-orang miskin seperti kami?

“Memang berapa biaya yang kamu butuhkan?”

Aku pun menyebutkan besaran biaya yang dibutuhkan seminimal mungkin yang telah kuhitung sebelumnya. Kami pun terdiam cukup lama.

„Cukup, jadi berangkat!“ Dengan tegas ibu mengatakan hal itu kepadaku,“Alhamdulillah, beberapa minggu yang lalu ada yang menawar tanah kita. Mudah-mudahan dia mau membeli rumah ini juga. Jika masih ada kekurangan, ibu akan coba cari pinjaman“

„Apa? Jual rumah ini? Terus ibu mau tinggal dimana?“

„Jangan khawatir, bukankan kita masih punya gubuk yang dekat sawah itu?“

„Tapi bu…“ Aku tidak setuju karena gubuk tersebut terlampau kecil dan sudah tidak layak huni lagi.

„Tenang saja, bukankah dulu juga kita malah lebih sering berada di sana?“

Memang gubuk itu menyimpan banyak kenangan bagi kami sekeluarga. Dulu ketika ayah masih hidup, kami bertiga seringkali bercengkrama di gubuk tersebut sambil memandang hamparan sawah milik keluarga kami yang cukup luas. Bahkan terkadang kita sama-sama menginap di sana. Namun sayang, sepeninggal ayah, satu persatu petak sawah itu terjual untuk biaya hidup kami.

Akhirnya atas izin Allah, semua rencana kami berdua terpenuhi. Persis dua tahun yang lalu aku pun berangkat. Karena keterbatasan dana, ibu tidak mengantarkan sampai bandara. Masih kuingat dia melambaikan tangannya seiring berangkatnya bis secara perlahan meninggalkan terminal. Tak ada tangisan, hanyalah senyuman lepas yang nampak dari wajah ibu. Lain halnya denganku yang tidak henti-hentinya meneteskan air mata. Ibu, maafkan aku belum cukup berbakti padamu.

Hari-hari pertama di Jerman masih tidak karuan. Banyak sekali perbedaan yang aku rasakan. Tidak hanya adaptasi masalah makanan, waktu, cuaca, namun juga butuh beberapa penyesuaian materi dasar perkuliahan. Belum lagi beasiswa yang ternyata sudah satu minggu belum keluar membuat hatiku semakin khawatir. Persediaanku semakin menipis, bahkan mungkin hanya cukup untuk tiga hari ke depan. Namun alhamdulillah, cukup banyak teman-teman Indonesiaku yang siap membantu jika memiliki masalah. Memang kami semua di sini merasa seperti saudara. Akan tetapi, sungguh aku tidak mau kalau sampai merepotkan orang lain. Aku akan menempuh segala cara yang halal supaya tetap bisa bertahan di negeri ini.

“Halloooo, melamun saja!” tiba-tiba Noi mengagetkanku. Noi adalah teman seangkatan dari Thailand. Dia mendapatkan beasiswanya dari pemerintah Thailand dengan jumlah yang jauh lebih besar dari beasiswa yang kudapatkan. Memang saat itu pemerintah Thailand benar-benar memperhatikan pendidikan para siswanya. Pernah satu kali saya menghadiri undangan acara Noi. Di sana banyak sekali siswa-siswi Thailand yang terbilang cukup muda. Menurut informasi dari mereka sih, pemerintahan saat itu memberikan dorongan yang sangat kuat dan peluang yang sangat besar untuk melanjutkan studi di luar negeri. Terlepas dari ada tidaknya pertentangan sebagian masyarakat Thailand atas pemerintahannya saat itu, yang jelas untuk bidang pendidikan aku menilai bahwa pemerintahnya sangat peduli.

“Kok di perpustakaan malah melamun sih, bukanya ngerjain tugas!”

Memang tugas di sini tiap minggu selalu menumpuk. Kalau terlambat mengerjakan salah satu tugas mata kuliah, maka akan merempet pada mata kuliah yang lainnya. Jadi mau tidak mau setiap selesai perkuliahan, aku harus langsung menuju perpustakaan untuk mencari beberapa referensi untuk mengerjakan tugas tersebut.

“Eh …Noi, apa kabar?”

“Baik, kangen pacar ya, dari tadi saya lihat melamun terus, bahkan kamu nggak sadar kalau aku berdiri lama di sini.”

“Nggak, lagi kangen rumah saja!”

„Gimana tugas dari Prof. Körn, sudah selesai? Aku ada satu soal nih yang belum selesai, mentok di tengah jalan, kamu bagaimana?“

„Nomor dua ya? Sama, ya udah kita kerjakan sama-sama saja!“

Itulah awal kami selalu belajar bersama. Sebenarnya kalau dipaksakan, kami bisa belajar masing-masing, namun masalahnya butuh waktu yang cukup lama untuk sampai pada tingkat pemahaman materi. Oleh karena itu, sepertinya belajar bersama memiliki efek yang signifikans belajar di negeri jerman ini. Kami bisa saling mengisi satu sama lain.

„Oya, beasiswanya sekarang sudah turun?“

„Nah itu dia masalahnya Noi, sampai saat ini beasiswa belum turun, sedangkan….“ aku tidak melanjutkan kalimat tersebut. Aku tidak ingin mengatakan kalau persediaan uang semakin menipis yang mungkin tidak akan cukup untuk satu minggu ke depan.

„Begini saja, minta bantuan dari universitas saja. Kabarnya ada beberapa mahasiswa luar negeri yang mendapatkan beasiswa dari universitas“

„Iya, cuman masalahnya mereka yang mendapatkan beasiswa itu adalah orang-orang yang tidak mendapatkan beasiswa dari pihak lain. Sedangkan saya, kebetulan pihak universitas sudah tahu kalau saya ini mendapatkan beasiswa.“

„Memang kapan sih beasiswanya turun?“

„Katanya sih tiap tiga bulan beasiswa akan turun. Hmmm…masih tiga minggu lagi!“

„Sudah ada upaya lain?“

„Iya, saya sudah coba cari lowongan kerja di Uni. Sudah dapat, namun baru mulai bulan depan.”

Kami akhirnya sama-sama termenung. Terlihat Noi langsung membuka handphonenya. Dia mengutak-ngatik sebuah nomor kemudian bertelpon ria dengan menggunakan bahasanya.

„Dapet!“ tiba-tiba dia sedikit berteriak kepadaku yang membuat orang lain dalam perpustakaan menoleh dengan menunjukan wajah kurang senang. Ini adalah perpustakaan yang sudah jelas tertulis dilarang berisik.

„Oh…maaf!“

„Apanya Noi yang dapet?“

„Barusan saya telpon teman saya yang punya restoran Thailand di sini. Katanya kalau benar-benar lagi butuh, dia bisa bantu dengan memperkerjakan kamu untuk sementara di restorannya. Tapi, maaf ya…jadi bagian dapur, cuci piring dan sebagainya. Itu juga kalau kamu mau sih.”

Wah mana mungkin saya tolak. Banyak juga kok mahasiswa Indonesia yang mengambil part-time job seperti itu.

„Terima kasih banget Noi, tawaran yang sangat membantu. Jadi kapan mulai bisa kerja?“

„Katanya besok sore kamu datang saja dulu ke sana. Biar saya antar!“

Alhamdulillah ya Allah, akhirnya hidupku tersambung kembali. Selama kurang lebih satu bulan saya bekerja di restoran tersebut. Namun di sana tidak tiap hari bekerja. Rata-rata dalam satu minggu, aku hanya bekerja empat hari saja. Itu juga pada sore hingga malam hari. Walaupun cukup lelah, tapi alhamdulillah semuanya bisa aku jalani.

Bulan berikutnya, aku mulai bekerja di universitas. Kebetulan universitas di sini memiliki sebuah lembaga riset yang sangat aktif, Fraunhofer Institute. Tidak hanya mahasiswa doktor yang bekerja di sana, tapi terkadang dipekerjakan juga mahasiswa master atau diplom. Sebenarnya tugasnya tidak terlalu berat, namun dibutuhkan keuletan dan keahlian dalam penggunaan beberapa software matematik. Oleh karena bidang matematiklah yang sedang aku geluti di universitas tersebut, maka semuanya tidak menjadi masalah.

Ditengah-tengah pekerjaan, biasanya aku selingi dengan cek email. Hmmm…hari itu cukup banyak email yang masuk. Cuman ada satu email yang membuatku begitu tertarik untuk membacanya. Email dari Wida teman kuliahku dulu waktu di Indonesia. Dia memberikan topik email yang membuatku sangat penasaran.

‚Surat dari ibu’

‚Assalamualaikum Lis, apa kabar nih Jerman? Wah hebatnya bisa kuliah overseas, Jerman lagi, jadi ngiri nih. Oya, beberapa hari yang lalu kebetulan saya bertemu ibumu di angkot. Mendengar berita kamu ke luar negeri, langsung penasaran deh, akhirnya saya mampir ke rumahmu untuk mendengar sejarah keberangkatan kamu. Luar biasa, selamat ya.

Oya, ibu titip surat nih untuk kamu. Sengaja tidak saya ketik ulang tapi saya scan suratnya supaya lebih terasa (padahal memang malas ketik ulang sih hehehe). Tuh bisa kamu ambil di file attachment, nice’

 

Begitu penasarannya, aku pun langsung buka file attachment.

 

‚Assalamualaikum,

Annaku sayang, Lilis. Bagaimana kabarnya? Alhamdulillah ibu di sini dalam keadaan baik-baik saja. Semoga Lilis juga dalam keadaan sehat dan kuliahnya diberi kelancaran. Awas jangan lupa sholat dan bersyukur ya. Oya, alhamdulillah ibu sekarang sudah punya pekerjaan tetap. Kebetulan pembantunya bu Rahma tetangga kita sudah berhenti, jadi ibu yang menggantikannya. Dia orangnya sangat baik…’

Cukup panjang surat yang dituliskan ibu saat itu. Dalam surat itu dia menggambarkan kondisi-kondisi baik yang membuatku cukup tenang. Namun perasaan rindu ini tetap menggebu. Ingin rasanya bertemu, mencium, dan memeluk ibu.

Dengan air mata yang mengembang, kubalas surat tersebut.

 

“Wa’alaikum salam wr wb,

Alhamdulillah, terima kasih ya Wid. Semoga Allah membalas kebaikan Wida apalagi kalau Wida mau membantuku dengan rutin mengunjungi ibu dan menyampaikan surat-suratku hehe. Pleaseee. Oya, saya juga sudah scan dan simpan di file attachment surat untuk ibu. Kalau ada waktu tolong sampaikan ya.’

 

Dalam surat itu, kusampaikan banyak hal mengenai Jerman. Dengan penuh semangat kugambarkan mengenai kedisiplinan orang Jerman, kerbersihan, ketaatannya pada aturan, tepat waktu dan lain sebagainya yang jarang ditemui di negeriku tercinta Indonesia. Memang benar jika ada yang mengatakan bahwa di Jerman ini kita banyak melihat kehidupan islami tetapi sedikit melihat umat muslim. Disamping penjelasan-penjelasan tersebut, aku sampaikan pula bahwa ibu tidak perlu lagi bekerja. Insya Allah secara rutin akan aku kirim. Alhamdulillah dari beasiswa yang kuterima, aku bisa sedikit menabung.

Berawal dari sana, kini kami menjadi rutin saling berkirim surat dan foto. Keberadaan Wida sangat membantu komunikasi kami. Bahkan pernah satu kali ibu diajak chating oleh Wida dengan menggunakan webcam sehingga kami bisa langsung melihat satu sama lain.

‘…Lis, ada kabar gembira nih dariku. Insya Allah bulan depan aku akan menikah. Dateng ya…hehe. Tapi jungan khawatir, setelah menikah nanti, aku akan tetap rutin mengirimkan surat-surat cinta dari ibumu.’

‚Ah…Wida emang best friend lah. Selamat ya, barokallohu laka…Entar deh aku dateng lewat file attachment. Kadonya lain kali aja ya, setelah aku pulang…’

Begitulah seterusnya. Setidaknya sebulan sekali kami saling berkirim email sampai menjelang kelulusanku. Namun ada hal yang sedikit aneh. Terkadang ibu memberikan jawaban yang tidak nyambung dengan pertanyaan-pertanyan di emailku dan dalam tahun terakhir ini surat-surat ibu menjadi lebih singkat walaupun tetap rutin dikirimkan.

Aku sampaikan juga pada ibu bahwa Agustus 2008 aku baru menyelesaikan sidang thesis dan insya Allah akan pulang sekitar September 2008. Disamping itu, ada satu berita gembira lain yang sengaja tidak aku sampaikan. Aku ingin membuat kejutan untuk ibu bahwa alhamdulillah setelah sidang thesis kemarin, profesor yang membimbingku menawari untuk melanjutkan riset thesis untuk tingkat doktoran. Dengan status baru sebagai arbeiter, tentu saja aku akan mendapatkan beasiswa atau mungkin tepatnya bisa dikatakan gaji dari universitas tersebut. Riset tersebut akan dimulai tiga bulan setelah kelulusanku. Aku pun telah mempersiapkan berbagai rencana termasuk memboyong ibu untuk tinggal di Jerman ini. Mudah-mudahan prosedurnya memungkinkan dan diberi kelancaran.

Dua minggu menjelang kepulangan ke tanah air, aku mendapatkan surat terakhir dari ibu,

 

‚Mutiara hatiku, selamat ya atas keberhasilannya. Di sini ibu sedang tersenyum bangga dan mungkin juga ayahmu. Ibu merasa orang paling beruntung sedunia. Entah bentuk syukur seperti apa yang harus ibu panjatkan ke hadirat Illahi robbi. Ibu benar-benar merasa malu dan takut atas karunia yang Allah berikan kepada kita. Malu karena merasa karunia ini tidak sebanding dengan rasa syukur. Takut jikalau kita termasuk orang yang kufur. Sayang, bantu ibu menyampaikan rasa syukur yang membuncah ini dengan amal-amal baikmu. Wahai bidadari penyejuk hati, Ibu menantimu di tempat yang sangat indah beriring do’a yang senantiasa menyertaimu. Terima kasih sayang.

 

Tiba-tiba dalam sekejap semua lamunanku buyar. Gema adzan Ashar telah mengusik alam bawah sadarku. Sahutan-sahutan Adzan yang telah lama kurindukan menerobos masuk ke lubang-lubang gubuk hingga menyapa halus daun telingaku. Rabb, cintamu melebihi cintaku pada ibu dan juga cinta ibu padaku. Kuyakin Engkau senantiasa memberikan yang terbaik kepada setiap makhluk-Mu. Aku tunduk pada ketentuan-ketentuan-Mu.

Seraya mengucapkan basmalah, aku bangkit dari lemasku menuju masjid yang terdekat. Kuingin membawa pesan ibu akan syukur dan amal baik. Pipi yang basah karena air mata kini telah berganti dengan siraman air wudhu. Aku siap menghadap-Mu ya Rabb.

Setelah selesai sholat, aku bertemu dengan Pak Imran yang merupakan imam masjid tersebut. Dia terlihat cukup kaget melihat keberadaanku.

„Ini Lilis ya?“

„Iya pak. Maaf kalau punya waktu, ada yang ingin saya tanyakan.“

Pak Irwan pun mengiyakan dengan senyumnya getirnya. Sepertinya bisa menebak arah pembicaraanku.

Dari pembicaraan dengan Pak Imran inilah akhirnya aku menemukan jawaban yang pasti bahwa memang benar kalau ibu sudah meninggal satu tahun yang lalu. Saat itu kejadiannya tidak diketahui oleh para tetangga. Baru ketahuan setelah Bu Rahma menyusul ibu karena sudah dua hari tidak bekerja di rumahnya. Dia mengatakan pula bahwa disamping jenazah ibu ditemukan secarik kertas yang berupa pesan dari ibu bahwa jika dia meninggal tolong dikuburkan di sekitar gubuk tersebut.

„Tapi pak…!“

Belum sempat aku melanjutkan pembicaraanku tiba-tiba Pak Imran memotong dengan permintaan maaf bahwa penggalian kubur ternyata dilakukan di dalam gubuk. Padahal dia telah menginstruksikan untuk menggali kubur disamping gubuk tersebut. Entah karena salah memahami instruksi atau hujan yang sangat lebat saat itu sehingga para penggali itu malas untuk menggali kubur di luar gubuk.

Aku pun hanya diam membisu. Sebenarnya bukan itu yang ingin saya tanyakan. Ada hal lain yang sangat mengganjal, yaitu surat-surat ibu. Baru sekitar dua minggu kemarin aku masih mendapatkan surat ucapan selamat dari ibu. Tapi kenapa kenyataannya ibu sudah meninggal satu tahun yang lalu.

Keganjilan tersebut saya jelaskan pada Pak Imran. Namun dia angkat tangan, tidak mengetahui hal tersebut. Sampai pada akhirnya kuputuskan untuk menelpon langsung Wida. Kebetulan nomornya masih saya simpan.

Ternyata setelah menikah, Wida langsung tinggal di Batam bersama suaminya. Mereka sudah berada di sana selama lebih dari satu tahun. Sebelum berangkat ke Batam, Wida mengunjungi ibu dan memberikan alamatnya yang memungkinkan ibu untuk tetap berkirim surat padaku melalui email Wida.

Setelah aku sampaikan berita kematian ibu, Wida terdengar sangat kaget. Dia sampaikan bahwa tiga minggu yang lalu dia masih menerima kiriman surat dari ibu.. Jadi siapakah penulis dan pengirim surat-surat ibu selama ini?

Hasil pembicaraan dengan Wida pun aku sampaikan pada Pak Imran. Setelah berpikir keras, akhirnya dia menyarankan untuk bertemu langsung dengan Bu Rahma sebagai orang pertama yang mengetahui ibu sudah meninggal. Mudah-mudahan dari beliau ditemukan sebuah petunjuk. Akhirnya dengan diantar Pak Imran, aku pun langsung berangkat menuju rumah Bu Rahma.

Sesampainya di sana, tidak basa-basi lagi, aku langsung menyampaikan keganjilan tersebut.

„Lis, ini memang waktu yang tepat untuk mengungkap rahasia yang selama ini ibu pendam.“ Bu Rahma mulai membuka sebuah jawaban.

„Satu tahun yang lalu, ketika ibu menemukan ibumu tergeletak dalam rumah itu, ibu menemukan secarik kertas dan sebuah amplop besar. Secarik kertas tersebut langsung ibu serahkan pada Pak Imran. Sedangkan satu amplop besar langsung ibu simpan baik-baik karena amplop itu memang ditujukan untuk ibu dan ada pesan agar tidak boleh ada yang tahu akan keberadaan amplop itu sampai kamu pulang.“

Ibu Rahma pun terlihat menerawang jauh, mengingat kembali kejadian satu tahun yang lalu. Aku dan Pak Imran dengan penuh penasaran menanti kelanjutan cerita Bu Rahma.

„Nah, setelah ibu buka, ternyata di dalamnya ada sekitar sepuluh amplop kecil yang tertutup lengkap dengan alamat dan perangkonya. Ibu masih ingat bahwa alamat yang dituju itu adalah daerah Batam atas nama Wida. Selain kumpulan amplop, terdapat juga sebuah pesan agar ibu menyampaikan amplop-amplop kecil itu sesuai dengan tanggal-tanggal yang telah ia tuliskan dengan pensil pada setiap sudut amplop. Kalau tidak salah sekitar tiga minggu yang lalu ibu mengirimkan amplop terakhir.“

Akupun terperanjat kaget dengan semua rencana ibuku.

“Kenapa ibu merahasiakan semua ini? Kenapa ibu tidak membiarkan Lilis pulang untuk melihat jasad ibu. Lilis ingin sekali mengusap-usap kaki ibu yang seringkali kesakitan karena rematiknya. Bukankah ibu sering mengatakan enak sekali kalau dipijit sama Lilis. Bu…Lilis sudah merencakan semua itu untuk terulang kembali. Tapi kenapa… ”Tak terasa air mata ini mulai menetes kembali.

„Lis, bersabarlah. ibu yakin saat ini ibumu sedang berada dalam keadaan yang terbaik. Berdoalah untuknya sebagaimana seringnya dia berdoa untukmu kala jauh.“

„Ibumu orang yang luar biasa. Dia memiliki perencanaan yang sangat matang akan masa depanmu. Dia tidak ingin berita kematiannya sampai kepadamu hingga akan merusak konsentrasimu belajar di sana.“ Pak Imran ikut nimbrung dalam pembicaraan tersebut.

Ibu…seandainya ada waktu yang tersisa untukku, kurela tubuh ini menjadi pengganti rasa sakitmu. Biarlah tangan ini terbelenggu oleh keinginanmu, kaki ini terantai oleh langkah-langkahmu. Takkan kubiarkan rasa dingin menyerang telapak kakimu. Kan kuserahkan kepalaku menjadi alasnya.

Namun sayang, kini semuanya tidak mungkin aku lakukan. Hanyalah untaian do’a yang bisa menyertaimu wahai telapak surgaku.

Ya Allah…
Berilah kedua orangtuaku balasan yang sebaik-baiknya
Atas didikan mereka padaku dan pahala yang besar
Atas kesayangan yang mereka limpahkan padaku
Peliharalah mereka… sebagaimana mereka memeliharaku

Ya Allah….
Apa saja gangguan yang telah mereka rasakan
atau kesusahan yang mereka derita karena aku
atau hilangnya sesuatu hak mereka karena perbuatanku
jadikanlah itu semua penyebab rontoknya dosa-dosa mereka
Meningginya kedudukan mereka dan bertambahnya pahala
kebaikan mereka dengan perkenan-Mu

Ya Allah…
Hanya Engkaulah yang berhak membalas kejahatan
dengan kebaikan berlipat ganda.

Bila magfirah-Mu telah mencapai mereka sebelumku
Izinkanlah mereka memberi syafa’at untukku
Tetapi jika magfirah-Mu lebih dahulu mencapai diriku
Maka izinkahlah aku memberi syafa’at untuk mereka

Sehingga kami semua berkumpul bersama dengan santunan-Mu
di tempat kediaman yang dinaungi kemulian-Mu, ampunan-Mu serta
rahmat-Mu
Sesungguhnya Engkaulah yang memiliki Karunia Maha Agung
serta anugerah yang tak berakhir

dan Engkaulah yang Maha Pengasih diantara semua pengasih…(*)

 

T a m a t

 

(*) Doa yang biasa dibawakan Imam Ali Husein -Cucu Rasulullah SAW


blog comments powered by Disqus
 

Menjadi Anggota

Ingin menjadi anggota?
Klik di sini.

Online

We have 2 guests online

RSS